
Jakarta, 7 Agustus 2026 – Di tengah keterbatasan ruang fiskal dan semakin kompleksnya tantangan pembangunan, pemerintah daerah dituntut tidak hanya mampu menyusun perencanaan, tetapi juga mengorkestrasikan berbagai sumber daya, membangun kolaborasi, dan menghadirkan inovasi kebijakan yang sesuai dengan kebutuhan daerah.
Untuk memperkuat kapasitas tersebut, Purnomo Yusgiantoro Center (PYC) bekerja sama dengan Pusat Pembinaan, Pendidikan, dan Pelatihan Perencana Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Kementerian PPN/Bappenas) menyelenggarakan Executive Training for Strategic Public Administration pada 3–7 Agustus 2026 di Jakarta.
Program ini diikuti oleh 24 Kepala Bappeda kabupaten/kota dari berbagai wilayah di Indonesia. Pelatihan dirancang untuk memperkuat posisi Bappeda sebagai simpul strategis pembangunan daerah yang menghubungkan prioritas nasional dengan kebutuhan, kapasitas, dan karakteristik pembangunan di tingkat lokal.
Sepanjang program, peserta mendalami sejumlah tema utama, mulai dari peran perencana sebagai orkestrator pembangunan, inovasi pembiayaan di tengah keterbatasan fiskal, inovasi kebijakan, hingga kepemimpinan strategis dalam memastikan rencana pembangunan dapat diterjemahkan menjadi program yang efektif dan berdampak.
Diskusi juga banyak berangkat dari persoalan nyata yang dihadapi pemerintah daerah. Peserta membahas tantangan harmonisasi kebijakan pusat dan daerah, ruang inovasi dalam perencanaan dan pembiayaan, koordinasi lintas sektor, serta bagaimana pemerintah daerah dapat merespons berbagai isu strategis yang menjadi bagian dari prioritas pembangunan nasional.
Untuk memperkaya perspektif, program menghadirkan narasumber dari berbagai institusi dan latar belakang, termasuk pejabat pimpinan tinggi dari Kementerian PPN/Bappenas dan Kementerian Keuangan, PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia (PT PII), akademisi, serta sejumlah tokoh nasional. Di antaranya Prof. Purnomo Yusgiantoro, Prof. Bambang Brodjonegoro, dan Suryo Pratomo (Duta Besar Republik Indonesia untuk Singapura tahun 2020-2025).
Pembelajaran tidak hanya berlangsung di dalam kelas. Peserta juga mengikuti kunjungan lapangan ke Bandung untuk melihat penerapan inovasi dan tata kelola berbasis teknologi secara langsung. Di Smart City & Community Innovation Center Institut Teknologi Bandung (SCCIC ITB), peserta mempelajari pengembangan kajian dan inovasi smart city. Sementara itu, kunjungan ke Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Bandung memberikan gambaran mengenai praktik smart governance dan pengembangan layanan publik digital. Rangkaian kunjungan juga mencakup Museum Institut Teknologi Bandung.
Salah satu keluaran utama program adalah penyusunan action note oleh masing-masing peserta. Dokumen tersebut mengangkat persoalan pembangunan yang dihadapi daerah masing-masing dan merumuskan langkah tindak lanjut berdasarkan pembelajaran yang diperoleh selama pelatihan. Dengan pendekatan tersebut, pelatihan diarahkan tidak berhenti pada penguatan pengetahuan, tetapi juga menghasilkan gagasan yang dapat dikembangkan lebih lanjut dalam konteks kebijakan dan perencanaan daerah.
Kegiatan dibuka oleh Sekretaris Kementerian PPN/Sekretaris Utama Bappenas Teni Widuriyanti bersama Ketua Umum PYC Filda C. Yusgiantoro. Pada rangkaian penutupan, Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy memberikan sesi mengenai kepemimpinan pembangunan, sebelum kegiatan secara resmi ditutup oleh Dewan Pembina sekaligus Founder PYC, Prof. Purnomo Yusgiantoro.
Melalui program ini, PYC dan Bappenas mendorong transformasi peran perencana daerah dari penyusun dokumen menjadi strategic policy orchestrator yang mampu membangun koordinasi, mengidentifikasi peluang pembiayaan, mengembangkan inovasi, dan memastikan prioritas pembangunan dapat diterjemahkan secara efektif sesuai dengan konteks masing-masing daerah.