
Jakarta, 29 April 2026 – RECLICKS oleh PYC, dengan dukungan dari Proyek FINCAPES (Flood Impacts, Carbon Pricing, and Ecosystem Sustainability) dan University of Waterloo, Kanada, menyelenggarakan Workshop CLICKS dengan tema “Penguatan Implementasi Penelitian untuk Pembiayaan Iklim dan Transisi Energi“ pada 29 April 2026 di Purnomo Yusgiantoro Center, Jakarta. Workshop ini merupakan bagian dari peluncuran resmi putaran kedua program Studi Kolaboratif RECLICKS, yang mempertemukan sepuluh tim peneliti yang baru terpilih bersama para praktisi senior, pakar kebijakan, dan dewan juri program.
Workshop ini didedikasikan untuk memperkuat kapasitas sepuluh tim peneliti yang didanai agar dapat menerjemahkan karya mereka menjadi dampak yang relevan bagi kebijakan. Tiga praktisi senior menyampaikan sesi substansial yang mencakup komunikasi penelitian, penyerapan kebijakan, dan integrasi gender, guna menetapkan standar dasar yang diharapkan dapat dipegang teguh oleh para peserta sepanjang siklus penelitian.
Workshop tersebut menghadirkan sesi tentang Pengaruh Riset terhadap Kebijakan. Dipimpin oleh Ari W. Adipratomo, Penasihat Pembangunan Rendah Karbon di UK-FCDO dan Manajer Advokasi di The Climate Reality Project Indonesia, sesi ini mengorientasikan ulang peserta dari pola pikir yang mengutamakan data menjadi pola pikir yang mengutamakan masalah. Para peneliti harus membingkai karya mereka di seputar konsekuensi fiskal dan urgensi pengambilan keputusan, bukan sekadar kontribusi akademis, jika mereka berharap riset tersebut digunakan. Peserta berlatih meringkas penelitian mereka menjadi satu kalimat kebijakan tunggal, dengan prinsip penutup bahwa jika sebuah penelitian tidak dapat diringkas menjadi satu kalimat, maka penelitian tersebut tidak akan bisa menjadi kebijakan.
Sesi berjudul ‘Kebijakan Tidak Membaca Paper Anda’ disampaikan oleh Dr. Ruddy Gobel, Co-Founder dan Ketua Arunala Foundation and Institute, serta Penasihat Kebijakan Senior untuk Transisi yang Berkeadilan di Center for Policy Dialogue (CPD). Dr. Gobel mendiagnosis lima celah struktural yang menghalangi bukti-bukti ilmiah mencapai para pengambil keputusan, dan mendemonstrasikan melalui dua studi kasus kebijakan di Indonesia tentang bagaimana celah-celah tersebut diatasi dalam praktiknya. Reformasi program Bantuan Siswa Miskin tahun 2013–2015 dan reformasi subsidi listrik tahun 2017 menunjukkan bahwa bukti riset berhasil ketika mampu menjawab pertanyaan operasional, dikomunikasikan dalam format berlapis untuk audiens yang berbeda, dan diterapkan secara iteratif di seluruh siklus kebijakan, bukan hanya disampaikan sekali di awal.
Sesi terakhir yang berfokus pada Integrasi Gender dalam Transisi Energi disampaikan oleh Dr. Amurwani Dwi Lestariningsih, M.Hum, Deputi Bidang Kesetaraan Gender di Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kementerian PPPA RI). Mengacu pada data IRENA 2025 dan Rencana Aksis Nasional Gender dan Perubahan Iklim (RAN GPI) Indonesia, sesi ini menegaskan bahwa transisi energi yang berkeadilan tidak dapat dicapai tanpa membahas siapa yang menanggung biayanya. Tiga risiko struktural diidentifikasi: runtuhnya ekonomi informal yang didominasi perempuan di sekitar komunitas pertambangan batu bara selama fase penurunan operasional; eksklusi perempuan dari lapangan kerja hijau karena kesenjangan akses STEM dan pelatihan ulang teknis; serta masih rendahnya keterwakilan perempuan dalam peran manajerial dan kepemimpinan di sektor energi terbarukan (19%), meskipun secara keseluruhan keterlibatan perempuan di sektor tersebut lebih tinggi (32%) dibandingkan dengan sektor minyak dan gas (22%). Sesi ini menempatkan tantangan-tantangan tersebut dalam komitmen mengikat Indonesia di bawah Perjanjian Paris, RPJMN 2025–2029, dan Enhanced NDC.
Ketiga sesi tersebut menetapkan standar bersama bagi kohort 2026: bahwa dampak penelitian bukanlah hasil dari publikasi, melainkan hasil dari desain yang disengaja—baik dalam cara masalah dibingkai, cara temuan dikomunikasikan, maupun realitas siapa yang tercermin dalam bukti tersebut.
Tentang Purnomo Yusgiantoro Center (PYC)
Purnomo Yusgiantoro Center adalah lembaga riset kebijakan independen yang berdedikasi untuk memajukan pembuatan kebijakan berbasis bukti di bidang energi, lingkungan, perubahan iklim, dan pembangunan berkelanjutan. Melalui penelitian, pengembangan kapasitas, dan dialog kebijakan, PYC mendukung transisi energi dan agenda iklim Indonesia. Berkolaborasi dengan FINCAPES, PYC mengelola RECLICKS (Center of Excellence for Climate Finance Policy, Research, and Training), yang bertujuan untuk memperkuat ekosistem pembiayaan iklim Indonesia dengan menghubungkan penelitian, kebijakan, dan praktik lapangan.
Tentang FINCAPES
Proyek Flood Impacts, Carbon Pricing, and Ecosystem Sustainability (FINCAPES) adalah inisiatif selama 5,5 tahun yang didanai oleh Kanada untuk mendukung upaya Indonesia dalam beradaptasi dan memitigasi perubahan iklim, sekaligus melestarikan keanekaragaman hayati secara inklusif secara sosial dan ekonomi. Diimplementasikan bersama oleh University of Waterloo (Fakultas Matematika dan Fakultas Lingkungan) dan didanai oleh Global Affairs Canada di bawah Strategi Indo-Pasifik Kanada, FINCAPES berfokus pada tiga bidang utama: risiko banjir yang diperparah oleh iklim dan dampak finansialnya, Solusi Berbasis Alam (Nature-based Solutions) untuk restorasi lahan gambut dan mangrove, serta kebijakan pembiayaan iklim—termasuk penetapan harga karbon dan mekanisme pasar—untuk mendukung transisi rendah karbon di Indonesia.




